Malang Raya

Sejarah Perseteruan Aremania dan Bonek

Aremania Saat Mendukung Arema di Stadion
Aremania Saat Mendukung Arema di Stadion

Arema dan Persebaya dengan kelompok suporternya Aremania dan Bonek menjadi salah satu contoh buruknya rivalitas sepakbola Indonesia. Tak hanya sekedar nyanyian provokasi saat di dalam stadion, bahkan hingga aksi sweeping yang mengakibatkan korban jiwa. Rivalitas ini sudah berlangsung sejak akhir 80-an yang tak kunjung usai hingga sekarang, bahkan semakin memburuk.

Jika merujuk dari kesaksian dari kedua belah suporter, awal dari permusuhan hanyalah masalah gengsi dua kota di Jawa Timur. Kemudian gengsi ini menjadi besar, karena berkembang menjadi bentrokan yang berakhir dengan korban jiwa. Apalagi, peran media juga sangat berpengaruh. 

Kultur Masyarakat

Kota Malang, pada era 70-80 an menjadi barometer musik tanah air, bahkan hingga ke negara tetangga. Tak hanya menjadi penonton, militansi warga Malang dalam menonton sebuah pertunjukan musik, termasuk kritikannya, menjadi tolak ukur sebuah band atau penyanyi di masa itu. 

Gigs Lolyta and Disgusting Trouble Malang
Gigs Lolyta and Disgusting Trouble Malang

Beberapa musisi bahkan punya anggapan, belum bisa sukses jika belum pernah mengadakan konser di Malang. Menurut mereka, respon publik Malang menjadi penilaian yang tak kasat, apakah sebuah band itu sudah bagus atau tidak. 

Warga Malang selalu antusias, militan dan mulai membentuk kelompok dalam menonton setiap konser berbagai genre musik yang digelar di Kota Malang. Para musisi kawakan menyebut hal ini tidak mereka temukan di daerah lain. 

Salah satu awal mula perseteruan Bonek dan Arema juga berawal dari sebuah konser musik. Arek-arek Malang yang begitu militan dan sudah terorganisir, melawat ke Surabaya untuk menonton konser Kantata Takwa di Tambaksari pada 1990. Mereka pun menguasai area depan panggung, berjoget dan meneriakkan yel-yel Arema. 

Hal ini membuat tuan rumah merasa tersinggung. Mereka kemudian berkumpul untuk mengusir rombongan Arek Malang yang sudah menguasai sisi depan panggung. Bentrokan pun tak terhindarkan, hingga terjadi di luar arena konser hingga stasiun Gubeng. 

Bentrokan penonton antara Malang dan Surabaya juga kembali terjadi pada acara-acara konser berikutnya. Saat konser Sepultura diadakan di tempat yang sama, yakni Tambaksari, tawuran kembali terjadi. Berkaca pada konser sebelumnya, arek Suroboyo memilih lebih dulu menguasai area konser. Bahkan mereka menghalau kedatangan rombongan arek Malang yang hendak menonton konser tersebut. Walhasil bentrokan pun pecah. 

Geng dan Sepakbola

Munculnya militansi dan kelompok-kelompok arek Malang yang sudah terorganisir ini tidak lepas dari masalah geng di Kota Malang. Sebelum disatukan oleh sepakbola dengan Arema-nya, pemuda-pemuda di Malang terkotak-kotak dalam geng-geng antar kampung. Setiap gang kampung memiliki kelompok dengan nama sendiri-sendiri. 

Geng Jaman Dulu di Malang
Geng Jaman Dulu di Malang

Salah satu lokasi yang menjadi sejarah dalam kultur geng di Malang adalah daerah Alun-alun. Setiap hari Sabtu, atau malam hari tempat tersebut menjadi tempat berkumpul berbagai pemuda dari seluruh Malang. Mereka datang dengan geng dan membawa bendera mereka masing-masing. Benar, tiap geng memiliki bendera masing-masing.

Jika bendera sudah ditancapkan di Alun-alun, itu menjadi pertanda, bahwa geng itu sedang mencari lawan tanding. Perkelahian perebutan gengsi dan pengakuan eksistensi pun terjadi. Tentunya, berujung dengan pembubaran oleh aparat keamanan. Beberapa wilayah yang cukup terkenal kala itu, bahkan mungkin sekarang di antaranya Jodipan, Muharto, Mergosono, Dinoyo dll. Setiap wilayah memiliki lebih dari 1 kelompok geng.

Melihat kondisi kota Malang yang marak dengan geng-geng ini, Acub Zainal dan anaknya Lucky mencoba mempersatukan pemuda di kota Malang. Karena dibalik geng-geng ini mereka melihat semangat militansi yang sangat besar. Bersama sejumlah tokoh lain seperti Ovan Tobing, dibentuklah klub Sepakbola untuk sebagai wadah.

Peran Media

Perseteruan antara Aremania dan Bonek tidak hanya dipicu dari masing-masing kelompok suporter, tetapi juga adanya peran media. Saat itu, Jawapos yang berusaha bangkit dari kebangkrutan, mengangkat Dahlan Iskan sebagai pemimpin perusahaan. Jawapos yang sebelumnya membahas berita tentang Jawa Timur, berubah dengan memporsikan berita soal Persebaya lebih banyak. 

Dahlan Iskan Bonek
Dahlan Iskan Bonek

Hal ini menimbulkan kecemburuan di pihak suporter Aremania. El-Kepet, salah satu dirijen Aremania saat itu merasa heran dengan Jawapos yang terlalu membesarkan berita tentang Persebaya, ketimbang Arema. Bahkan menurutnya, ada berita soal pemain Persebaya yang sedang latihan saat hujan pun dijadikan headline. Kecemburuan ini berimbas dengan makin bencinya Aremania kepada Bonek dan Persebaya. 

Tak hanya dalam hal berita, gengsi itu juga termasuk memperebutkan julukan “Arek” untuk penyebutan suporter. Julukan Arek Suroboyo lebih melekat sejak zaman penjajahan Belanda. Namun kata “Arek” digunakan klub sepakbola Malang, yakni Arema dengan kepanjangan Arek Malang nya. 

Sebenarnya, antara kedua suporter tidak begitu mempermasalahkan, namun ketika masuk ranah jurnalistik, penasbihan penyebutan adalah hal yang penting. Dahlan Iskan dengan Jawa Posnya itu memiliki ide untuk membedakan penyebutan “Arek” untuk suporter Surabaya dan Malang. Dahlan menyebut suporter Aremania dengan “Kera Ngalam”.  

Berdalih menggunakan bahasa khas Walikan, Dahlan membalik kata “Arek” menjadi “Kera” meski ada pesan tersembunyi bahwa Kera juga bahasa lain untuk Monyet. Beberapa suporter Aremania tak ambil pusing, meski banyak juga yang menganggap Dahlan memiliki dosa kepada mereka dengan penyebutan “Kera” itu tadi. 

Di sisi lain, Dahlah juga memiliki kecintaan tersendiri terhadap Persebaya, sehingga Jawa Pos dianggap menjadi wadah bagi Dahlan untuk “nyinyir” ke rivalnya.

Awal Bentrok Antar Suporter

Setelah beberapa kali terjadi bentrokan saat konser musik, bentrokan mulai terjadi dalam lingkup sepakbola. Namun bentrokan antar suporter ini awalnya bukan antara Aremania dengan Bonek. Saat itu pada 26 Desember 1995, Persebaya melakukan laga away ke Malang menghadapi Persema Malang. 

Nurkiman Korban Kekerasan Suporter Sepak Bola
Nurkiman Korban Kekerasan Suporter Sepak Bola

Hasil pertandingan seri dengan skor 1-1 untuk Persebaya dan Persema. Ngalamania yang tidak puas dengan hasil tersebut, membuat kericuhan. Mereka kemudian bahkan mencoba menyerang pemain Persebaya. Bus yang ditumpangi para pemain dan ofisial Persebaya yang hendak bertolak kembali ke Surabaya, dihadang oleh Ngalamania. Mereka melempari batu bus tersebut. Nukirman menjadi korban dalam kejadian ini. Mata kirinya terkena lemparan batu yang membuat dia harus cacat permanen. Hal ini pun mengganggu karirnya dalam sepakbola. 

Kejadian ini menjadikan dendam di antara kedua suporter Surabaya dan Malang. Imbasnya, peristiwa penyerangan antar suporter semakin banyak terjadi di sejumlah daerah, ketika kedua klub melakukan laga tandang ke luar kota. Bahkan semakin memburuk hingga terjadi jatuhnya korban jiwa di kedua belah pihak.

Usaha Perdamaian Antar Suporter

Meski jumlah bentrokan antar suporter banyak terjadi di beberapa wilayah, namun harapan untuk mendamaikan kedua suporter juga dilakukan kedua belah pihak. Beberapa kali sejumlah tokoh suporter masing-masing mencoba melakukan pertemuan untuk membicarakan perdamaian. 

Anto Baret Menyanikan Kabar Damai Dalam Pertemuan Antar Suporter
Anto Baret Menyanikan Kabar Damai Dalam Pertemuan Antar Suporter

Tak hanya untuk Bonek dan Aremania, tetapi pertemuan itu juga mengajak seluruh elemen suporter yang ada di Indonesia. Salah satu pertemuan besar diadakan di Malang, yang kemudian melahirkan anthem “Kabar Damai” yang diciptakan oleh Sam Anto Baret. Anthem ini pun sampai saat ini sering bergema dalam berbagai acara sepakbola. 

Peristiwa besar yang juga menjadi salah satu usaha mendamaikan Bonek dan Aremania yakni, laga away Arema di Tambaksari. Sejumlah pentolan suporter Aremania diantaranya Antok Baruna, Lukman Kidul Pasar, Saiful Gluduk dll menemui Dandim kota Malang yang juga ketua PS Arema, Letkol Inf. Sutrisno. Tujuan mereka agar bisa mendukung Arema berlaga di Tambaksari melawan Persebaya.

Permintaan ini diamini oleh Letkol Inf. Sutrisno yang kemudian berkoordinasi dengan berbagai pihak agar Aremania bisa away ke Tambaksari. Koordinasi ini melahirkan perjanjian damai antara kedua suporter, dengan hasil Bonek juga diijinkan mendukung timnya di Malang.

Suporter Aremania Away ke Kandang Persebaya di Tambaksari
Suporter Aremania Away ke Kandang Persebaya di Tambaksari

Di tengah konflik yang parah itu, Aremania pun akhirnya bisa mendukung Singo Edan di Tambaksari, dengan pengawalan ketat. Sayangnya sejak tiba di stadion, mereka sudah mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari tuan rumah. Berjingkrak dengan aksi atraktif, Aremania terus mendukung Arema, di tengah cacian dan bahkan lemparan plastik berisi air kencing.

Namun meski demikian, tidak semua Bonek melakukan penyerangan. Sejumlah suporter Persebaya lainnya juga mencoba menghalangi rekan-rekannya melakukan tindakan tidak terpuji itu. Sayangnya hal itu sia-sia dan kembali berujung pada bentrokan. 

Kejadian ini pun mencoreng perjanjian damai yang dilakukan sebelumnya. Buntutnya, laga away Persebaya ke Malang pun gagal mendapatkan izin dari aparat setempat. Hal ini memantik kekecewaan Bonek, dan menganggap pihak Aremania memiliki hutang yang belum dibayar hingga sekarang. Mungkin jika ketika itu tidak terjadi bentrok di Tambaksari, saat ini kedua belah suporter bisa menyanyikan dukungan diatas tribun bersama. 

Berita Terkait

Hoax Walikota Malang Cium Kaki Warga Papua

sebabut

Kamus Bahasa Walikan Khas Kota Malang

sebabut

Bahasa Walikan Kota Malang, Ini Sejarahnya

sebabut
Memuat...